Islam yang tersebar di Indonesia merupakan Islam Rohmatan lil Alamin, hal ini dapat dilihat dari berbagai cara masuknya ajaran Islam dengan cara damai seperti melalui jalur perdagangan dan akulturasi budaya setempat, tidak mengherankan jika ajaran Islam dapat diterima dengan baik oleh penduduk pribumi yang notabenenya memeluk agama Hindu Budha. Strategi penyebaran begitu jauh berbeda dengan yang dilakukan di Timur Tengah yaitu dengan cara penaklukan, walaupun Rosululloh tidak memakai cara kekerasan dalam menyebarkan ajaran Islam kepada umatnya.
Peran PMII dalam melawan paham Radikalisme di Kampus
PMII merupakan organisasi kemahasiswaan yang mengobarkan semangat keIslaman dan keIndonesiaan serta berhaluan Ahlussunnah Wal Jama'ah, hal ini dapa dilihat dari segi historis bahwa PMII merupakan organisasi yang lahir dari rahim organisasi masyarakat (Ormas) NU, secara tidak langsung PMII masih menggunakan kultur NU dalam bergerak yang berasaskan Pancasila.
Munculnya gerakan-gerakan radikal dan intoleran mulai bermunculan dan menjunjukan keberadaannya. Menjadi dinamika kaum nahdliyin berintelektual khususnya kader PMII untuk membentengi dan menyempitkan ruang gerak paham tersebut. Benteng pertahanan Ahlussunnah Wal Jamaah di zona akademis kampus khususnya kampus berbasis Islam sudah tentu menjadi tanggung jawab bagi kader PMII dalam upaya mempertahankan keutuhan NKRI yang susah payah diperjuangkan oleh para ulama dan fundhing father pendiri bangsa.
Wajah Islam yang rohmatan lil alamin telah dirusak oleh sebagian oknum dengan menggunakan wajah buram, kasar dan penuh dengan kebencian, hal tersebut jelas-jelas telah melenceng jauh dari visi dan misi ajaran Islam itu sendiri. Kampus umum sebagai salah satu ladang subur bagi para penyebar faham radikal dan intoleran, disinilah PMII menjawab tantangan faham tersebut, pasalnya PMII sebagai organidasi kaderisasi sangat kental dengan predikat sebagai aktivis yang terus menggaungkan kedaulatan dan keadilan bagi rakyat, sehingga kader PMII kurang harmonis dan acuh dengan status akademisnya. Padahal jika dikaji lebih jauh bahwa paham tersebut bisa masuk melalui perantara forum akademis.
Secara istiqomah dan masif, organisasi radikal dan intoleran mulai masuk keruang yang tidak dilirik oleh kader PMII, seperti halnya memanfaatkan organisasi lembaga dakwah kampus ataupun ruang kecil yang tidak begitu diminati oleh kader PMII. Kader PMII sudah begitu jauh terlelapkan oleh buaian politik praktis untuk menduduki posisi yang terlihat strategis, namun melupakan ruang kecil yang justru dapat menjadi jalan dan kesempatan bagi faham intoleran untuk berkembang.
PMII yang erat dengan asahan pemikiran kiri, juga harus diimbangi dengan sikap moderat yang menjadi asal muasal produk pemikiran Nahdliyin, mempertahankan esensi dan eksistensi Aswaja di kampus merupakan salah satu tanggung jawab kader PMII. Oleh sebab itu, kader PMII tidak harus anti musholah/masjid kampus, namun harus merebut kembali untuk menguasai tempat-tempat strategis dakwah yang ada di kampus.
Penguasaan Aswaja di Kampus Umum
Langkah perubahan tidak serta merta dimulai dengan langkah-langkah besar, namun perubahan dapat dilakukan dengan langkah-langkah kecil dan sederhana, begitu pula dengan kader PMII dalam menerobos faham radikal yang telah kokoh berdiri yang telah membokade faham Ahlussunnah Wal Jama'ah di kampus umum.
Pertama, menguasai organisasi intra kampus. Sejak dini penting ditanamkan jiwa kepemimpin dan mengorganisir massa, sebagai bentuk fitrah bahwa setiap manusia adalah pemimpin, sehingga tidak ada hal yang mustahil dan dipertentangkan apabila mahasiswa-mahasiswa NU mulai menjajaki organisasi intra kampus seperti Senat Mahasiswa,, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Sikap apatis terhadap proses pergolakan kampus akan semakin memberikan kesempatan pihak-pihak lain untuk menempati posisi-posisi strategis yang ada di kampus.
Kedua, membentuk dan memasifkan group diskusi dengan mahasiswa umum. Hal ini sangat penting, apalagi jika diterapkan di kampus-kampus umum dengan mengundang tokoh-tokoh yang mahir tentang pemikiran Islam (Aswaja) guna membentengi dan menarik mahasiswa dan akademisi kampus dengan doktrin Islam Aswaja.
Ketiga, menguasai pers dan media, hal tersebut dapat menjadi salah satu cara yang cukup efektif untuk menanamkan paham Ahlussunnah wal Jama'ah baik melalui media cetak ataupun media yang lain, pasalnya perbendaharaan literasi terkait pembahasan Ahlussunnah wal Jamaah jarang dimediakan oleh mahasiswa khususnya nahdliyin PMII.
Ketiga hal di atas adalah sekadar kiat-kiat penulis, dan masih bisa bersifat dinamis dalam penerapannya karena situasi dan kondisi setiap perguruan tinggi akan berbeda, maka berbeda pula solusi dan strategi dalam mempertahankan dan menyebarluaskan faham Islam Rahmatan lil Alamin Ahlussunnah Wal Jama'ah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar