Kampus merupakan sebuah tempat yang digunakan untuk belajar mengajar antara dosen dan mahasiswa, dimana mahasiswa sebagai murid dan dosen sebagai guru, antara keduanya merupakan sebuah objek dari lingkungan pendidikan kampus. Setiap hari kegiatan belajar mengajar terus digalakan untuk menambah asupan gizi pengetahuan. Setiap hari tugas diberikan kepada mahasiswa untuk mengejar nilai yang baik sehingga mendapat predikat cumlaude.setiap hari lembar demi lembar dari buku terus dibolak balik untuk mendapatkan refrensi yang falid (ilmiah).
Mulai pagi sampai siang, siang sampai sore kegiatan perkuliahan terus bergulir dari dosen satu kedosen yang lain seperti antrian utnuk memberikan tugas kepada mahasiswa dan saat itu pula mahasiswa diasupi dengan pengetahuan-pengetahuan yang dikira dapat mencerdaskan dalam membekali mahasiswa untuk proses setelah diperkuliahan.
Makalah satu sampai makalah yang lain terus dipresentasikan dengan membaca makalah yang telah dicopy paste seperti manusia sedang membaca al kitab yang sakral. Dan jika ada sedikit saja yang salah dalam pengucapan maka keringat terus mengucur dari jidat mahasiswa yabg sedang presentasi. Menjadi kehawatiran bahwa nilai mata kuliah tidak keluar dan takut untuk ditanya sana sini oleh seluruh audiens.
Dengan kesibukan yang terus dibebankan kepada mahasiswa sehingga dosen tidak memberikan waktu untuk menyadarkan mahasiswa terkait tanggungjawab mahasiswa dengan pengamalan tri darma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian, pengabdian). Dalam proses pendidikan mahasiswa terus dibayangi dengan ketakutan-ketahutan nilai yang mistis dan misterius. Didalam proses pendidikan menggunakan cara seperti mengajari kerbau tanpa adanya pemantik untuk memotifasi mahasiswa dan menjelaskan tugas dan tanggungjawab mahasiswa sebagai agen perubahan dan agen kotrol realita sosial.
Mahasiswa terus dijauhkan dari realita masyarakat dan dituntut untuk menjadi kutu buku sehingga pengembangan pengetahuan dan pikiran mahasiswa terus terjatuh dan tanpasadar dosen mematikan pikiran mahasiswa serta menjauhkan hati mahasiswa dari rasa tanggunggjawab sebagai manusia yang berpendidikan.
Out put dari proses tersebut dapat dilihat bahwa koruptor adalah orang berpendidikan tinggi, namunbkenapa demikian? Karena hati dan pikirannya dari mulai proses pendidikan tidak diajarkan untuk bermanfaat bagi masyarakat namun lebih menjurus kepada pekerjaan, sehingga jika koruptor yang selama ini menjadi monster negara merupakan hasil dari produksi dalam bangku pendidikan yang bobrok.
Manusia yang berilmu adalah manusia yang dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku, baik aturan negara maupun aturan agama. Karena seorang koruptor adalah pencuri uang rakyat sehingga dari sini dapat diambil benang merah bahwa koruptor adalah orang yang tidak berilmu, serta otak dan hatinya mati. Ini merupakan hasil produk dari pendidikan yang diajakan oleh dosen kepada mahasiswa sehingga sejak awal mahasiswa telah dibunuh daro segi pikiran dan hati.
Sebatas asumsi...!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar