Sabtu, 27 Oktober 2018

Mahasiswa tersesat saat muncak


Agen of change, agen of control social, iron stock dan moral vorce terus bergeming dan bergemuruh ditelinga, semangat juang terus dipacu untuk mengenyahkan ketidak adilan dan penindasan. Proses perubahan setiap saa dilalui, setiap lantunan perlawanan terhadap penguasa dzolim terus disuarakan, ANTI KEMAPANAN dan ANTI PENINDASAN serta PELOPOR HUMANISME.


Kemanusiaan bukanlah membelai setiap manusia, mahasiswa dalam memanusiakan manusia bukanlah dengan buaian dan sentuhan lembut terhadap manusia.. kenapa demikian??? Karena buaian dan belaian lembut akan meninabobokan manusia. Proses memanusiakan manusia adalah bagaimana manusia itu tidak mengeluh dengan kondisi yang dialami, tidak putus asa dan serta tetap optimis dalam menjalankan kehidupannya sebagai layaknya manusia.


Pendidikan merupakan salah satu proses untuk mencapai hal demikian, memanfaatkan otak dan pengetahuan supaya dapat bermanfaa untuk orang lain. Manusia yang pintar bukanlah orang yang hafal tentang seribu teori, manusia yan cerdas bukanlah manusia yang melahap ratusan bahkan ribuan buku, hal demikian akan sia-sia jika ilmu yang dimiliki tidak diamalkan dan tidak dimanifestasikan dengan gerakan.

Banyak dari manusia yang hafal dan cerdas malah menggunakan kecerdasannya untuk membodohi manusia yang lain, kenapa demikian??? Entah itu adalah manusia yang kesetanan, korupsi menjadi salah satu budaya yang GILA dan BIADAB. Kenapa demikian karena sudah jelas-jelas itu merupakan hal yang tidak diindahkan oleh aturan agama maupun aturan negara.

Kembali lagi dengan pokok pembahasan bahwa mahasiswa merupakan manusia yang terdidik dan dapat membedakan yang baik dan yang buruk (ciri-ciri manusia yang berilmu). Mahasiswa merupakan pemuda harapan bangsa yang digadang-gadang sebagai garda terdepan dalam pemvangunan bangsa. Dengan PENDIDIKAN yang dikonsumsinya diharapkan dapat mengumpulkan segudang konsep didalam bermasyarakat.

Mahasiswa untuk memastikan teori yang dilahapnya kemudian seharusnya di teliti dan diterapkan didalam pembangunan bangsa apakah teori tersebut sesuai atau masih perlu tambahan teori yang lebih relefan. Mahasiswa turun kebawah untuk berinteraksi dengan masyarakat dan serta bergulat dengan buku. Terus seperti itulah mahasiswa yang merupakan implementasi dari TRI DARMA PERGURUAN TINGGI.

Inplementasi inilah yang menjadi pokok tujuan didirokannya Pendidikan Tinggi.
Namun dalam proses mahasiswa dalam menempa diri terkadang disesatkan oleh kondisi hingar bingar kehidupan dalam merefresh otak pikirannya setelah mengkonsumsi tugas dari dosen. Selain itu TUJUAN MAHASISWA, TANGGUNGJAWAB MAHASISWA, KEWAJIBAN MAHASISWA seringali hanya sebatas nyanyian sendu supaya dikira sebagai mahasiswa yang gagah berani, dan tegas dalam menyuarakan aspirasi masyarakat.


Kelalaian seorang mahasiswa mulai merambah diproses pembentukan karakter mahasiswa, dari dijauhkannya mahasiswa dengan masyarakat, dikaburkan pikiran mahasiswa sehingga mahasiswa lebih kepada mahasiswa IO. kenapa demikian??? Karen mahasiswa disibukkan oleh pikiran bagaimana caranya membuat kegiatan yang WAAAH.... membuat seminar-seminar tingkat dunia supaya diakui dan eksis dalam pergolakan eksistensi.


Selain diatas mahasiswa lebih sering eksis dan hobinya selfie-selfie berfoto ditempat mewah, berfoto dengan tokoh nasional maupun internasional, dan seolah itulah tanggungjawab seorang mahasiswa. Seolah mahasiswa memiliki tanggungjawab sebagai agen perubahan untuk elit politik dan semakin jauh dengan masyarakat jelata, masyarakat miskin, masyarakat pinggiran, masyarakat terlantar dan lapar.

Sehingga mahasiswa dalam menuju puncak sebagai manusia yang benar-benar sejatinya manusia untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan bermanfaat untuk orang lain yang tidak berkesempatan mengenyam bangku perkuliahan dan tersesat serta meninggalkan tanggungjawabnya guna memenuhi kepuasan syahwatnya lebih jauh dengan masyarakat, sehingga mahasiswa menjadi sampah plastik yang tidak dapat diterima dan tidak dapat menyatu dengan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar